Senin, 13 Januari 2025

Laut Pasang 1994

Bagaimana takdirnya nanti. Tujuh raga akan tetap satu jiwa.


Peristiwa yang menghancurkan seluruh kota dalam waktu yang sangat singkat. Tujuh tubuh paling menyedihkan menjadi saksi bagaimana ganasnya gelombang pasang malam itu. Malam terakhir yang penuh bintang, indah seperti senyuman ibu enam tahun lalu.

“Apta! Esa! Genggam tangan Mas yang kencang!”

Kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang diucapkan Khalid, yang ternyata menjadi usahanya yang sia-sia. Semua terjadi sangat cepat, air laut naik ke daratan lebih buas dari dugaannya, dan dengan mudah memisahkan genggaman tangan mereka tanpa belas kasihan.

“Bagaimanapun takdirnya nanti, tujuh akan tetap tujuh. Ingat kata Si Mbah, bahwa kita itu satu, satu jiwa yang terbagi dalam tujuh raga yang berbeda.”



Deskripsi :


Judul : Laut Pasang 1994

Judul Asli : -

Penerbit : Akad x Tekad

Penulis : Lilpudu

Ukuran : 14 x 20 cm

Halaman : 320 halaman

Cover : SC

ISBN : 978-623-5953-36-6


Cetakan keenam, Februari 2024


Sinopsis :


Tahun 1994 menjadi tahun paling menyakitkan untukku. Bukan hanya aku, tapi bagi semua warga di kampungku. Kejadian yang tidak disangka oleh siapapun ini merenggut banyak senyum dan kebahagiaan. Aku yang egois dan keras kepala, seperti pada kejadian 2 Juni 1994, mendapatkan balasan dari semua perbuatanku.

Malam itu, gemuruh suara air naik dengan cepat ke daratan, disertai teriakan, jeritan, dan runtuhan barang yang saling membentur. Dengan sekuat tenaga, aku meneriaki satu persatu nama tujuh anakku yang hanyut terhempas air pada malam itu. Kami bagaikan dicambuk oleh takdir.

Entah suatu keberuntungan atau sebuah kesialan. Aku selamat dari tragedi itu. Tiang besar yang menjadi tempat aku bertumpu, menyelamatkan diriku dari kuatnya arus air yang semakin naik. Mataku memandang jauh ke semua penjuru, walau yang kulihat hanya tubuh tak bernyawa yang mengapung terbawa arus.

Semua tampak gelap akibat listrik padam. Beruntungnya, cahaya bintang masih memberikan sedikit sinarnya untuk manusia sepertiku. Di bawah langit malam, tubuhku telah kehabisan tenaga. Manusia egois seperti aku hanya bisa menangis dan menyesali perbuatan buruk yang sudah aku perbuat selama bertahun-tahun.



Daftar Isi :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ibadah Sepenuh Hati

Ibadah itu nikmat! Dalam lantunan surat Al-Fatihah, terjadi dialog syahdu antara seorang hamba dengan Rabbnya. Di kegelapan yang hening, ter...